Deretan kantong merah membalut bagian atas Balabba (sagu yang dipadatkan dan dibungkus daun) tampak saat saya melewati Jalan Poros Trans Sulawesi, tepatnya di Kecamatan Larompong Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan. Belasan warung-warung kecil menjual sagu yang telah dipadatkan, ada yang dibungkus karung dan juga daun.
“Tidak adami yang bikin disini nak, kami sisa beli saja di pasar,” kata Jubdin. Tomakaka (perangkat adat) Buntu Matabing. Katanya, tradisi Masambe (proses mengolah sagu dari batang pohon hingga menjadi tepung sagu) kini mulai ditinggalkan. Dulu kata Jubdin, masyarakat adat hanya mengkonsumsi sagu dan Sikapa (porang hutan). Pangan lokal itu diolah secara mandiri menjadi tepung, dikumpulkan dan disimpan untuk dikonsumsi dalam jangka panjang. Namun, sejak pertanian mulai masuk, masyarakat sekitar beralih pada beras.
Habitat sagu di Tana Luwu tersebar luas dari dataran tinggi Latimojong hingga pesisir Malangke Barat. Sagu memiliki daya adaptasi tinggi pada cekaman suhu dan intensitas cahaya matahari rendah pegunungan, genangan air sepanjang tahun di rawa, salinitas air garam di lahan pesisir dan tanah masam pada lahan gambut.

